Selamat Datang di Website Kami Info Jihad Internasinal

Donasi Untuk Keluarga Mujahid

Minggu, 05 Desember 2010

Apakah Israel Akan Serang Gaza Lagi?

(Info Jihad Internasional)
Shalih Nuami
Ancaman sejumlah pejabat Israel akan menggelar aksi militer besar ke Jalur Gaza dengan alasan sebagai balasan serangan roket ke Israel makin kuat. Terakhir ancaman dilontarkan oleh Jenderal Sami Turjaman, komandan angkatan darat Israel bahwa perang atas Hamas dan Hizbullah adalah kepastian. Ia menyebutkan sejumlah latihan militer yang sudah disiapkan oleh pasukan Israel untuk perang ini. Benjamen Netanyahu juga pernah menegaskan bahwa Hamas akan membayar jika melanjutkan serangan roketnya ke Israel.
Pertanyaannya, seriuskah Israel akan menggelar aksi militer ke Gaza?
Bisa dibilang, penentu kebijakan di Tel Aviv serius dalam ancaman ini. Meski aksi militer kali mungkin akan berbeda dengan agresi terakhir ke sana (2008-2009). Meski Israel mengalami kerugian besar usai perang perang terakhir ke Gaza sehingga posisinya di dunia menurun drastis, namun para penentu kebijakan politik di Tel Aviv meyakini bahwa aksi militer ke Gaza harus dilakukan dengan alasan-alasan berikut:
Pertama, berbeda dengan Ehud Olmert, pemerintah Benjemen Netanyahu lebih rendah semangatnya dalam menghabisi Hamas di Jalur Gaza. Sebab Hamas tidak peduli dngan perundingan politik. Namun pemerintah Israel ini tetap komitmen melumpuhkan Hamas atau menciptakan miliu keamanan di Jalur Gaza yang menyebabkan gerakan ini sibuk sendiri dan tidak mengembangkan potensi militernya. Apalagi informasi intelijen menegaskan, Hamas terus mengembangkan kemampuan militernya terutama bidang pengembangan roket dan keinginannya membekali diri dengan kemampuan militer yang bisa mengubah perimbangan kekuatan. Misalnya, Hamas ingin memiliki rudal anti pesawat atau roket dengan hulu ledak lebih besar yang hingga menembus Tel Aviv. Hal ini terlihat ketika pemerintah Netenyahu berusaha menghabisi pemerintahan Hamas jika Otoritas Ramallah menerima gagasan negara Palestina dengan perbatasan sementara dimana Jalur Gaza termasuk dalam wilayah sementara itu sehingga pemerintahah Hamas di Gaza harus dibasmi habis.
Kedua; tertawannya serdadu Israel Gilad Shalit masih menjadi sumber keresahan pemerintah Netanyahu dan pemerintahannya. Apalagi Netanyahu tidak siap memenuhi tuntutan faksi-faksi perlawanan yang menawan Shalit. Publik dan media Israel sendiri menekan Netanyahu agar lentur dengan Hamas. Ini yang mendorong Netanyahu tidak menyerang dan akan menggelar aksi militer besar. Agar ini menjadi bukti di opini publik Israel, meski Shalit tidak kembali, bahwa pemerintahnya sudah mengerahkan usaha besarnya. Aksi militer bisa bertujuan menawan sejumlah elit gerakan untuk dijadikan tawar menawar dengan Shalit.
Ketiga; jika Israel menyerang proyek nuklir Iran, maka Hamas dan Hizbullah akan diserang dulu karena Iran pasti akan memanfaatkan kedua gerakan ini untuk membalas Israel.
Keempat; serangan roket Hamas dari Jalur Gaza ke Israel akan menjadi penekan Netanyahu untuk menggelar aksi militer dan ia tidak ingin tanpa kurang ngotot dibanding pendahulunya, Olmert dalam menghentikan serangan roket. Di sisi lain, serangan terhadap Israel di Tepi Barat dan Israel meyakini aksi itu dikendalikan dari Gaza dan Damaskus. Ini akan menjadi alasan memukul Hamas.
Kelima; ada perasaan para penentu kebijakan yang mengdukung hasil agresi terakhir ke Jalur Gaza bahwa konfrontasi dengan Hamas di Jalur Gaza adalah tantangan paling mudah dibanding dengan Hizbullah atau Suriah atau Iran.
Jika Israel harus menggelar aksi militer besar terhadap Hamas di Gaza, pertanyaannya sebesar apa dan apa perangkatnya?
Jelas, aksi militer Israel terakhir ke Jalur Gaza menjadi pelajaran bahwa “keberhasilan taktik berakhir dengan kegagalan strategi”. Pasukan Israel akan berusaha menghindari rakyat sipil sehingga citranya di dunia internasional tidak semakin runtuh. Pada saat yang sama, Tel Aviv akan berusaha memetik hasil perundingan langsung dengan Otoritas Palestina untuk memperoleh dukungan internasional untuk menyerang Gaza.
Israel akan berusaha fokus membidik target militer Hamas di Jalur Gaza; misalnya terowongan dan fasilitas pendukung militer Hamas disamping membantai elit gerakan ini.
Namun timing aksi militer ini ditentukan oleh banyak perkembangan. Di antaranya berlanjutnya serangan roket dari Jalur Gaza ke Israel apalagi jika menimbulkan korban warga ‘sipil’ (baca; warga penjajah) Israel dan miliu politik dan kemampuan Tel Aviv memperoleh legitimasi internasional dalam menerapkan rencananya.
Apakah Palestina Butuh Perang?
Jawaban kalangan Israel tidak satu. Namun mereka sepakat bahwa perilaku Palestina di Jalur Gaza membenarkan kepada Tel Aviv untuk menyerang; yakni serangan roket dari sana. Ini untuk menggalang dukungan internasional dan regional dalam aksi militer besar-besaran ke Jalur Gaza. Dalam hal ini apa gelagat Israel?
Pertama, kontak dan jalinan dengan Eropa dan anggota Tim Kuartet dimana Israel ingin meyakinkan kondisi bahaya yang dialami warga Israel jika serangan roket Jalur Gaza berlangsung terus. Israel berusaha menyakinkan pentingnya hak Israel membela warganya. Tentu Israel tidak perlu capek meyakinkan negara Arab untuk menyerang Jalur Gaza, sebab mereka lebih semangat menghabisi Hamas.
Kedua, gelagat di organisasi internasional tepatnya PBB dan Dewan Keamannya untuk mengkriminalkan warga Palestina, tepatnya Hamas dan pemerintahannya serta tuduhannya bertanggungjawab atas hancurnya keamanan. Bahkan pejabat Israel di DK PBB mengadukan Hamas setelah menyerang dengan roket bahwa roket itu mengandung fosfor yang berbahaya bagi Israel.
Ketiga, ketegangan statemen Israel soal semakin banyaknya persediaan roket yang dimiliki perlawanan Palestina, terutama Hamas. Apalagi roket yang bisa menembus jantung Israel.
Belajar dari Laporan Gold Stone
Salah bila anda yang bilang Israel tidak belajar dari laporan Gold Stone. Sebab penentu kebijakan Israel paham kerugian mereka saat laporan Gold Stone yang meruntuhkan citra Israel di dunia internasional dan semakin kuatnya seruan mencabut legalitas Israel sehingga hubungannya dengan sejumlah negara terganggu. Karenanya, sejak agresi terakhir, Israel sudah membentu tim advokasi.
Karenanya, Israel akan menghindari titik bidikan yang dijadikan dasar Gold Stone sebagai pelanggaran kemanusiaan.
Hamas Sebagai Alamat Serangan
Pada agresi 2008-2009, penentu kebijakan Israel berbeda soal target agresi. Ehud Olmert melihat agresi harus berlanjut sampai Hamas habis di Jalur Gaza. itu ditegaskannya pasca perang. Sementara Menhan Ehud Barak hanya memberikan pukulan telak kepada Hamas dan bukan menjatuhkannya.
Perbedaan ini berlangsung hingga akhirnya agresi dihentikan.
Meski ada kemungkinan agresi baru Israel ke Jalur Gaza; namun Israel tidak akan melakukan sampai tercipta miliu yang sesuai. Pertanyaannya, apakah pihak Palestina di Jalur Gaza ikut andil dalam memberikan pengkondisian itu karena berlanjut melepaskan roket ke pemukiman penjajah Israel?
Israel menilai bahwa Hamas dan pemerintahnya bertanggungjawab satu-satunya atas apa yang terjadi Jalur Gaza. Di sini, Israel berhasil menggiring dunia internasional agar Israel merealisasikan “pemisahan Jalur Gaza” dan pembekuan pemukiman yahudi di Jalur Gaza. Dari sini juga, semua pihak di Palestina harus menilai kembali sarana perlawanan untuk sekarang ini dan mencari alternatif perlawanan di masa depan. Meski hak gerakan perlawanan bekerja melawan penjajah Israel. Langkah bijak bila hasil operasi perlawanan tidak digunakan Israel untuk menyerang gerakan perlawanan dengan kekuatan berlebihnya untuk kepentingan mereka, baik bidang militer terutama bidang politik yang merugikan perlawanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar